Nikmatnya Sedekah

Minggu, 7 Februari 2016 22:51:07 - oleh : admin
Nikmatnya Sedekah

Hari itu tepatnya hari Rabu, seperti biasa aku bergegas menuju kampus
dengan mengendarai sepeda motor. Karena hari sudah siang, aku memacu
sepeda motorku dengan kencang karena jarak rumah ke kampus sekitar 28
km.
Nampak satu per satu pengendara berebut menjadi pemenang bagaikan
pertandingan balap yang diadakan di arena. Terlihat saling angkuh antara
pengendara satu dengan pengendara lainnya seperti tak ingin kalah
begitu pula aku.


Tak lama kemudian aku pun sampai di kampus yang tak begitu besar,
suasana masih sunyi hanya terlihat beberapa mahasiswa mulai memasuki
ruang kelasnya. Waktu menunjukan pukul 07.55 dimana perkuliahan akan
segera dimulai. Aku duduk di dalam ruang kelas sembari memainkan
handphone kesayanganku menunggu perkuliahan dimulai.


“Tet… tet… tet..” suara bel yang terkesan seperti suara bel anak
taman kanak-kanak terdengar nyaring di telingaku pertanda perkuliahan
akan segera dimulai.


Seperti biasa sebelum perkuliahan dimulai, selalu ada sesi motivasi
dari dosen. Hal itu merupakan bagian dari aturan di kampusku dengan
durasi maksimal 15 menit.
“selamat pagi semuanya” sapa Pak Widi dosen mata kuliah Enterpreneur memulai perkuliahan hari ini.
“selamat pagi” sahut mahasiswa lain berbarengan. Mereka sangat
bersemangat apabila mengikuti mata kuliah Entrepreneur yang diajarkan
beliau, karena selain orangnya asik beliau juga selalu memberi
masukan-masukan yang maknanya dalam.
“motivasi dari saya hari ini adalah tentang arti bersedekah. Semua tahu
arti sedekah? ada yang rutin bersedekah di kelas ini?” Tanya beliau
sebelum memulai motivasi.
“tahu, tapi nggak sering ngelakuinnya pak” jawab beberapa mahasiswa dengan jujur.


Beliau berdiri menulis sesuatu di whiteboard, hal ini membuat kami
penasaran dan mencoba membaca apa yang beliau tulis. “mari bersedekah”
dua kata yang beliau tulis di whiteboard mampu membuat kamu semakin tak
mengerti dengan alur cerita motivasi pagi itu.
“baiklah. Perlu kalian ketahui untuk menjadi pengusaha yang sukses, kita
harus mengikuti ajaran dari agama kita dengan benar apalagi semua yang
ada di kelas ini mengaku beragama islam. Salah satu ajarannya adalah
bersedekah. Pengusaha yang ingin kesuksesannya langgeng maka salah satu
kuncinya adalah bersedekah. Karena apa? Allah swt telah memerintahkan
kita melalui Al Quran salah satunya surat Al Ma’un dimana kita harus
berbagi rejeki dengan anak yatim dan fakir miskin. Disini saya akan
menceritakan pengalaman nyata betapa besarnya dampak dari kita
bersedekah. Dulu waktu saya masih berada pada posisi di bawah dengan
keadaan ekonomi yang cukup sulit, saya merelakan semua uang gaji bulan
itu untuk bersedekah seraya berdoa semoga allah memberikan kemudahan
rejeki dengan berlipat ganda. Satu dua minggu saya masih seperti biasa
dan hidup tanpa uang gaji satu bulan, tapi di minggu ketiga tanpa
sengaja ada orang menawari saya sebuah pekerjaan dengan nominal yang
cukup tinggi waktu itu hampir berkisar 350 juta. Sejak saat itu saya
rutin bersedekah dan alhamdulilah sampai saat ini saya tak pernah merasa
kesulitan masalah ekonomi dan uang selalu datang menghampiri saya
dengan jalan yang bervariasi. Jadi kesimpulannya dengan bersedekah,
rejeki kita akan bertambah dan dilapangkan jalannya dan saya berharap
mulai saat ini kalian bisa menyisihkan uang jajan atau uang hasil jualan
untuk bersedekah di jalan yang benar bukan untuk hura-hura membeli
kemaksiatan” paparnya kepada mahasiswa.


Salah satu mahasiswa mengajukan pertanyaan sebelum sesi motivasi
ditutup. “Pak, sebaiknya bersedekah itu ke siapa? kalo ke pengamen
jalanan termasuk sedekah bukan?”
“bersedekah pastinya yang utama ke orang yang membutuhkan. Kalo saya
pribadi lebih memilih bukan ke pengamen karena mereka menjual suaranya
untuk mendapatkan uang sedangkan kalo kita bersedekah ke seseorang
bukannya kita tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Lebih baik saran
saya kalo tidak ke pengemis ya… lebih baik ke panti asuhan atau ke
pondok pesantren yang menggratiskan santrinya untuk menempuh pendidikan”
“lh… kenapa bisa begitu Pak? Jadi kalo kita ngasih ke pengamen bukan
dihitung sedekah?” Tanya mahasiswa lain penuh rasa keingin tahuan.
“ya menurut saya mereka menjual suara dan kita membeli suara mereka,
jadi ada yang diperjual belikan. Dan saya cenderung mengajak kalian
bersedekah ke panti asuhan dan pondok pesantren yang saya maksudkan tadi
karena uang yang kita berikan bisa bermanfaat untuknya. Pertama
keduanya mendidik anak bangsa untuk meraih cita-citanya yang kelak
mereka bisa berguna dalam membangun bangsa ini”
Mendengar penuturan yang panjang lebar, semua mahasiswa terdiam sejenak
meresapi nasehat dan penjelasan dosen kesayangannya hari itu.


Hari berikutnya, aku dan beberapa temanku sebut saja Isna, Aulia dan
Husnul mulai mengikuti nasehat pak dosen meski yang kami sedekahkan
hanya sebagian kecil dari uang saku atau uang hasil berdagang.


Kami memulai kegiatan ini dengan rutin tiap minggunya baik ke
pengemis maupun orang yang membutuhkan. Sungguh diluar dugaan, sejak
kami rajin melakukan kegiatan bersedekah tersebut, nikmatnya mulai
terasa di antaranya kami tidak pernah lagi merasa kesulitan dalam hal
rejeki karena selalu saja ada jalan atau pemberian yang tak terduga dari
orang di sekitar, selain itu bisnis kecil yang aku dan Isna jalankan
mulai memberikan hasil dengan ramai serta selalu ada pembeli tanpa
mengalami kerugian-kerugian bisnis seperti sebelum-sebelumnya sebelum
mengenal arti sedekah yang sesungguhnya.
“petuah dosen kita benar adanya, hidup dengan cara agama yang benar dan
dilakukan dengan hati yang ikhlas ternyata mampu mengubah hal-hal di
luar logika seorang manusia terbukti dengan hal-hal indah yang tak
terduga mengiringi perjalanan hidup kita” kataku membuka pembicaraan di
tempat kami biasa nongkrong yakni di dekat ruko tak berpenghuni yang
letaknya tak jauh dari kampus.
“setuju, dan itu semua terbukti pada diri kita saat ini. Bersedekah
ternyata membuat hidup kita semakin nikmat dan lebih bahagia lahir
maupun batin” Aulia ikut angkat bicara. Dia menatap ketiga wajah
teman-temannya dengan penuh senyum kebahagiaan.


Isna bangkit dari tempatnya menyendiri. “iya, benar ternyata rahasia
di balik kesuksesan beberapa pebisnis yang langgeng mereka selalu rutin
menyedekahkan keuntungannya bukan memakan semuanya”
“nah kalo begitu, kita harus berkomitmen untuk menyedekahkan sebagian
harta yang kita miliki karena sebagian harta yang kita punya ada hak
orang miskin betul?”
“betu… betul… betul…” serempak kami menjawab pertanyaan Husnul seraya
tertawa lepas. Semenjak saat itu pun kami berkomitmen untuk menjalankan
aktivitas ibadah sebagaimana perintah Allah SWT.

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Cerpen,Puisi & Sms Hikmah" Lainnya

Asma'ul Husna

Mutiara Hikmah Hari Ini

Pesan Singkat Anda

Team Support

Supeno

Indra Saksono

 

 CALL / SMS :

Cik Noi: 0813 5980 2025

Bp.Sugeng: 0812 3351 6187

Ibu Hanik: 0856 0871 4373

Bp.Nawawi: 0813 3531 9772

Bp.Mukhson:0851 02791925

Sdr.Masruchin:085232278474

 

Gabung Di Facebook

Kajian Islami

PELUANG JADI PENGUSAHA