Berbagi, Jangan Tunggu Kaya!

Kamis, 13 Maret 2008 04:45:33 - oleh : admin

 


"Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan do'akanlah mereka karena sesungguhnya do'amu dapat memberikan ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat At-Taubah ayat 103).

Anda ingin berbagai rizki, tak perlu harus kaya dulu. Pernyataan ini memang terlihat simpel dan sederhana, kita semua pasti setuju. Namun, adakalanya kita lalai untuk menjadikan spirit kata-kata itu dalam sebuah perbuatan nyata. Perbuatan yang menjadikan orang lain sedikit terkurangi bebannya, atau minimal bisa menjadikan orang tersenyum atau senang karena itikad baik kita untuk berbagi rizki.

Mungkin, kita sering berandai-andai,
"Ah, nanti kalau aku sudah kaya akan belikan Ibu perhiasan yang bagus.",
"Ah, kalau aku sudah kaya, aku akan belikan ayah mobil agar nyaman kemana-mana. ", "Ah, kalau aku sudah kaya, akan kusumbangkan sebagian hartaku untuk anak yatim.". “Ah, kalau aku sudah kaya, bla.. bla.. bla..”

Singkatnya, belum sadar mau berbagi rizki karena merasa belum kaya.

Anda pernah berpikiran seperti itu? Kalau saya, jujur pernah. Sering saya berandai-andai untuk menyenangkan orang tua, kawan, dan orang-orang yang saya pandang perlu mendapatkan uluran tangan. Saya terkadang berpikir seperti itu. Nanti sajalah kalau sudah kaya, cukup banyak uang, saya akan membantu dan menyenangkan mereka. Tapi, kemudian saya sadar. Kapan saya akan kaya, terus saya berpikir juga, kaya itu harus seperti apa sih, harta melimpah ruah ataukah ...? Pikiran saya buntu, kemudian saya tersadar, kekayaan itu ternyata sulit untuk didefinisikan. Ukuran kaya setiap orang beda.

Lantas saya yakin betul, justru yang paling penting sesungguhnya adalah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepada kita. Memang, kita perlu untuk terus bekerja agar bisa mengejar impian-impian kita. Tapi, tidak perlu harus bekerja ngoyo (tak mengenal waktu), apalagi menempuh jalan pintas (korupsi atau menipu) yang justru bisa menindas dan menyengsarakan orang lain. Mungkin dengan jalan itu bisa mendapat banyak uang, tapi percayalah, semua itu tidak akan menjadi berkah buat kita.

Mengejar kekayaan materi takkan pernah selesai. Apa yang kita miliki, sisihkanlah sedikit untuk sesama, jangan menunggu kaya, ini kata kuncinya. Bagi seorang muslim, tentu mengerti tentang ajaran mengenai zakat. Menyisihkan sebagian harta kita untuk diulurkan kepada orang-orang yang membutuhkan (orang miskin). Nah, di sini persoalannya, ketika kita masih merasa miskin, tentunya berat sekali untuk membayarkan zakat. Tapi, kalau kita merasa cukup dengan harta yang kita miliki, insya Allah, kita akan tergerak untuk merealisasikan ajaran Allah yang dibawa Nabi Muhammad itu.

Dengan zakat, terbukti bisa memberikan solusi bagi kemiskinan yang masih melanda negeri ini. Saya pernah mendengar dari beberapa pengelola zakat bahwa ajaran ini jika benar-benar dilaksanakan oleh kaum muslim di negeri ini, akan sanggup mengentaskan kemiskinan. Hanya persoalannya, kesadaran untuk berzakat, berbagi rizki ini belum sepenuhnya dijalankan. Makanya, gerakan sadar zakat, gerakan untuk berbagi, menyisihkan sebagian harta kita ini patut terus menerus disosialisakan agar umat Islam menjadi lebih baik kondisinya, menjadi lebih makmur. Inga.. Inga.. 2,5%, begitu kampanye teman saya di salah satu lembaga zakat.

Saya kira, kesadaran berzakat ini berangkat dari kefahaman kita tentang ajaran Islam itu sendiri, kemudian kita bisa melatihnya dengan sikap berempati. Saya punya cerita tentang empati. Empati ini seperti yang diperlihatkan seorang penjual es yang pernah saya temui, namanya Fery. Suatu siang, saya kehausan dan mampir ke sana, di samping saya juga ada yang beli, dia memakai baju lusuh, hem.. dia seorang peminta-minta yang juga mampir karena kehausan.

Setelah habis, dia membayar segelas es kepada Ferry, tapi Ferry menolaknya. Setelah orang yang beli es itu pergi, saya tanya ke Ferry, "Kenapa kok kamu nggak mau menerima uangnya?" Dengan santainya, Ferry mengatakan, "Nggak ah mas, kasihan." Ah, Ferry, buka sekedar segelas minuman yang kamu berikan, tapi itu segelas es empati. Duh Ferry, kamu mungkin dalam pandangan orang belum dikatakan kaya, tapi kamu sanggup berbagi rizki. Salut, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu dan menambahkan rizki berlipat untukmu. Aamiin.


sumber : pondokyatim.multliply

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Kisah Donatur (Dahsyatnya Sedekah),Yatim Piatu Dll" Lainnya

GALLERY PANTI.

Pesan Singkat Anda

Team Support

 


 CALL / SMS :

Bp.Mukhson:0851 02791925

Ibu Hanik: 0856 0871 4373

Ibu Masithoh: 0816 1529 5925

Cik Noi: 0813 5980 2025

Bp.Sugeng: 0812 3351 6187

Bp.Nawawi: 0813 3531 9772

 

Gabung Di Facebook